1. 3 months ago 
    "Dear whoever is reading this, I hope you know that you’re never alone & that somebody out there loves you more than you will ever know."
  2. 4 months ago 
    baru belajar photoshop..hehe lumayan lumayan :D

    baru belajar photoshop..hehe lumayan lumayan :D

     
  3. 4 months ago 

    mama gaul

    Temen lagi telponan sm mamanya..
    H***** : ma, mama pindah rumah ya?
    Mama : iya..
    H***** : ko' ga ngajak-ngajak?
    Mama : kamu kan lagi kuliah..
    H***** : terus kalo aku pulang waktu libur semesteran kemana?
    Mama : ya kerumah baru..
    H***** : rumahnya dmana?
    Mama : dimana aja boyeeeh..
    H***** : -.-' *speechless
  4. 4 months ago 
    "Seperti orator"
    - Bagiku, kedewasaan itu mampu mengendalikan..
    Bukan berarti mengendalikan orang lain, tapi mengendalikan emosi sendiri agar orang lain terpengaruh..
  5. 4 months ago 
    Obat-obatan dan sebangsanya? ada di PIOGAMA..

    PIOGAMA (Pusat Informasi Obat Gadjah Mada), kunjungi di piogama.ugm.ac.id

  6. 4 months ago 
    "belajar merangkai kata"
    - DIA telah menciptakan Muhammad SAW sebagai seorang yang sempurna..
    Kita memang tidak mungkin sesempurna beliau, tetapi Muhammad SAW juga manusia dan seorang panutan, untuk apa ada panutan bila kita tidak dapat menirunya..
  7. 4 months ago 

    Mau Bikin Tulisan (Niatnya Cerpen) Jadinya ga Karuan..

    Satu..

    Setelah keluar dari sekolah SMA-nya Raha melanjutkan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Tekadnya tidak begitu bulat, karena bimbang dengan bagian ‘kuliah’, dalam hatinya masih selalu bertanya-tanya ‘apa itu kuliah? Apa mirip dengan SMA? Kalau di DO gemana? Kalau ga lulus gemana?’ tapi kebimbangannya pudar ketika ia teringat kata-kata ibunya sesaat sebelum ia pergi ‘belajar yang bener ya, yang rajin, jangan lupa solat, sekarang Raha belajar aja dulu, masalah lain-lain biar Ibu dan Ayah yang pikirin, Ibu dan Ayah selalu mendoakanmu’ dengan senyum penuh bangga Ibu dan Ayahnya melepasnya untuk belajar menimba ilmu di kota orang.

    Dalam bis yang membawanya ke kota malam itu, Raha akhirnya menghilangkan kegalauannya dan ia dapat tidur walau angin begitu deras masuk melewati jendela bis yang tidak dapat tertutup karena pecah dan jendela-jendela lain tidak dapat tertutup karena slot penutupnya rusak. Beberapa kali Raha terbangun tidak tahan karena perutnya kembung dan ingin buang air kecil, beruntungnya saat Raha terbangun karena sudah tidak kuat menahan, sang supir berhenti memarkirkan bisnya di salah satu warung makan padang yang memang biasa melayani bis-bis pada malam hari dengan penumpang kelaparan. Terlihat saat Raha turun dari bis dan melihat kesekeliling ternayat banyak bis yang juga parkir untuk beristirahat.

    Malam itu suhu begitu dingin dan begitu gelap, langit tidak sedang dihiasi bintang dan bulan yang biasanya bercengkrama memadukan keindahan mereka untuk dipertontonkan kepada manusia dibumi agar mereka ingat bahwa yang menciptakan langit adalah sang maha kuasa yang bahkan menciptakan langit berserta isinya tanpa kesalahan dan kekurangan sedikitpun. Bukan masalah perut yang dicari Raha setelah menunaikan keinginannya untuk pergi ke WC, melainkan masalah Mushola yang hampir tidak ia lihat disekitar rumah makan tersebut. Terlihat kebingungan seorang bapak bertanya padanya dengan logat Jawa, ‘cari apa de?’, Raha menjawab ‘maap pak, saya tidak lihat Mushola dari tadi, Musholanya disebelah mana ya?’, ‘oooh iku ono neng pojo’an, sebelah kiri’ jawab bapak tersebut, ‘terima kasih banyak pak, saya Raha, maap bapak siapa ya namanya?’ ‘saya Tejo’ jawab bapak tersebut sambil berlalu dengan senyuman. Raha melihat sekilas bapak tadi pergi meninggalkannya menuju meja makan yang menyediakan aneka makanan berat dengan berbagai macam minuman hangat. Perutnya sangat keroncongan dan masih sedikit kembung, tapi ia belum menunaikan solat isya, maka ia lebih memilih solat, ‘ah Insya Allah masih sempat makan, nanti kalo ga sempat dibungkus aja lah’ pikirnya.

    Selesai menunaikan solat isya, ia melihat pak supir bis ternyata masih dengan santainya menikmati makanannya. Raha kemudian mengambil nasi tahu tempe dan sayur, dengan minuman air hangat, Raha bukan sedang tidak ingin makan tetapi ia senang sekali berhemat. Raha adalah anak pertama dari 3 bersaudara, kedua saudaranya laki-laki, hanya ibunyalah yang menjadi idola kaum lelaki dirumahnya dalam hal memasak, seringkali saat masih SMP dan SMA, Raha dipanggil ibunya untuk membantu didapur karena Raha-lah satu-satunya lelaki yang dipercaya ibunya didapur, keterampilannya tidak begitu hebat, hanya saja ia teliti dan banyak ingin tau soal rasa. Saat tidak membantu ibunya didapur, Raha dan adiknya yang kedua biasa menjaga toko setelah pulang sekolah, toko kelontong kecil yang bergabung menjadi satu bersama rumahnya. Raha dan adik-adiknya tidak pernah mengeluhkan tentang kondisi rumah mereka yang garasi kecilnya berubah menjadi toko klontong, karena mereka tau bahwa dari toko inilah mereka mendapat uang jajan tambahan.

    Seringnya Raha membantu ibunya didapur, ia menjadi lebih tau tentang masak-memasak. Masih terekam dalam ingatannya saat ia dan ibunya bercengkrama didapur yang penuh sayur-sayuran yang telah terpotong dan siap dimasukkan dalam panci untuk dijadikan soto, ‘nanti kalau Raha kuliah kan perlu keterampilan juga, biar bisa hemat makanya Raha harus pinter masak, harus bisa nyuci juga ya? biar ga sering beli makan diluar dan kalau nyuci biar ga lowenderi mulu, itu loo yang nyucinya dicucikan, apa namanya itu?’ ‘Londri bu’ jawab raha sambil tersenyum, ‘iya itu, siapa tau kan nanti kuliahnya murah tapi biaya makan dan hidupnya mahal, ya kan?’ Raha hanya tersenyum dan mengangguk, ‘nah, nanti kalau ga mau masak atau sibuk kuliah ya ga pa-pa sih beli makan diluar. Kalau kayak gitu, cara hematnya bisa beli lauk dan sayurnya aja tapi nasinya Raha sendiri yang buat’ ‘Raha nanam padi dulu bu?’ Raha nyeletuk sambil senyum menggoda’iya nanam dulu dong, terus ditinggal kuliah, habis kuliah baru dipanen..hehe’ ibunya tidak kalah nyeletuk, ‘Raha udah ngerti nanak nasi kan?’ ‘udah bu’ Raha kembali mengangguk, ‘tapi nanti ga usah nanak lagi, pake ricecooker aja tuh punya ibu, nanti ibu pakai penanak yang ada aja, eh coba dilihat nasinya udah masak belum’ pinta ibunya, Raha melihat penanak nasi sambil tersenyum, betapa kagumnya ia dengan ibunya yang telah memikirkan sampai sejauh itu dalam mempersiapkan masa depannya.

    Kembali dari lamunannya, ia bersama penumpang lain melanjutkan perjalanan setelah selesai melahap santapan paginya yang terlalu pagi, mereka menuju kota..

    Yogyakarta.

avatar_128
 
 
Follow @agung_utan on Twitter
 
 

Following

ulirianiarianamrufisastaffaqisthiafalittleteenager
 

Tumblr